Mini heart attack is printer trouble at injury time
R: Hari ini, 19 tahun yang lalu saya ikut UMPTN.
A: Oh, sekarang namanya apa?
R: SPMBTN… kalo gak salah.
A: O kirain itu kredit rumah di BTN
Most of the time, translating Indonesian into English or other foreign languages means editing/correcting the source text. If possible of course. If allowed by the writer too.
Out of the blue I remember a quite bitter experience concerning this one. I’ll write about it later.
“Almost” is the key
(via so-relatable)
Membaca ayat Qur’an yang dikutip komik 5 Pesan Damai itu, saya teringat kangmas kami. Namanya sama dengan suami. Sejak pertama kami berkenalan, suaranya lembut selalu. Penuh kasih sayang dan tidak pernah “obral urat”. Menurut suami yang merupakan teman dekatnya sepenongkrongan semasa muda, kangmas sudah begitu sedari dulu. Alias watak bawaan. Mriyayeni, kata orang Jawa, walau bukan darah biru.
Anak beliau empat orang, yang dua sedang menanjak remaja. Seiring pertambahan usia, kangmas malah makin lembut dan adem. Sering bikin saya malu sekaligus betah karena halusnya. Halus yang santun, bukan halus yang bikin ngeri pengen buru-buru pulang:p
Seperti adik kandungnya sendiri, bukan ipar, kangmas sering menyapa saya “Dik”. Kata beliau ketika saya menginap di rumahnya suatu kali, “Ya pengen apa, nanti tak usahakan cari.”
Teladan itu hendak saya terapkan kendati tak mudah. Saya hendak membujuk suami tercinta (ya, apa salahnya sayang-sayang terus, wong suami sendiri kok) menghentikan secara bertahap suatu kebiasaannya. Dia sendiri mau berusaha. Saya pun paham bahwa itu butuh kesabaran dari kedua belah pihak. Bukan dengan mencereweti, mengomeli, apalagi dengan nada tinggi. Saya sendiri tidak suka dibegitukan:p
Apa gerangan kebiasaan kurang baik itu, saya akan simpan dulu. Khawatir hanya jadi wacana. Yang penting usaha dulu sama-sama, deh:)
Di buku Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat ada bahasan mengenai “pantaskan dirimu dulu sebelum mendapatkan apa yang kauinginkan/kauminta”. Ini berlaku secara umum. Penulis mencontohkan ketika seorang istri minta motor pada suami, suami menyarankannya menabung dan belajar mengemudi lebih dulu. Ini penting, ditambah kemampuan mengutak-atik kendaraan sendiri. Seremeh apa pun. Saya sependapat bahwa kalau perempuan mengaku “modern”, bukan zamannya lagi enteng bilang, “Kan saya gaptek” kalau bawa motor ke bengkel.
Di suatu acara keluarga, saya berada di tengah para keponakan yang sudah menikah pula. Ada yang sudah dua tahun, ada yang delapan tahun. Semua tengah berupaya gigih untuk punya anak. Termasuk berobat, tentu bersama suami masing-masing. “Kebetulan” yang hubungan kekerabatannya lebih dekat adalah suami mereka itu.
Ketika mereka minta penghiburan ringan, saya bicara begini saja, “Pantaskan dirimu. Bukan hanya persiapan fisik, tapi mental. Kurangi dulu hobi nyalonnya, travelingnya, nonton sampai paginya…”
Dan tentu, itu nasihat untuk diri saya sendiri pula.
Dari 5 Pesan Islam (vbi djenggotten)
Line sudah jalan. Tapi timeline nggak bisa dengan stiker. Tetap saja berat dan masalahnya karena update. Demikian.
Iseng-iseng waktu alergi kumat:p -
World’s Best Way to Make & Share Comics
Mulai berpikir, status tersamar yang mengundang kepo itu berarti andil salah nggak ya?