Mungkin saya lemah hati, tapi lebih sehat unlike page yang penuh foto kucing. Memudahkan saya berpisah dengan kucing.
Pagi ini Blangkontang berusaha masuk rumah, saya usir. Dia nyelip di antara dua layangan suami, saya biarkan meski ada jejak pipis di sana. Bisa-bisa suami marah kalau tahu nanti.
Dan dia masih hobi mengasah-ngasah kuku, mencakari kayu, dll. Sepertinya meski sudah lebih dari setahun, Blangkontang belum jadi kucing dewasa.
Remember - social media is supposed to be fun, not a burden. Also remember that social media consists of having a yarn with your neighbor over the back fence, visiting your cousins for a catch-up in the local cafe, and spending real time with your real friends. It’s not all that bad to find other outlets.
Ruang tamu sudah jadi, tinggal pintunya saja. Perlu beli kayu untuk membuat pintu geser dan beberapa elemen untuk kunci. Saya membayangkan pintu dipalang sebenarnya, tapi repot kalau keluar.
Anehnya, malah ruangan itu jadi jarang dipakai. 
Ini Blangkontang sebelum melahirkan, sekitar seminggu yang lalu. Dia menyadari perubahan tata rumah kami dan tahu teras sudah berkurang, mudah-mudahan…
Setelah dibersihkan tadi, saya menunggu sampai Bebe bangun untuk melanjutkan. Perasaan entah kenapa tidak enak, ketika bolak-balik melihat dia pipis terus. Tapi sungguh, saya tidak menyangka… Sekitar jam setengah dua siang tadi, tubuhnya sudah terbujur kaku.
“Apa tadi dimainin anak-anak?” tanya suami. Sewaktu saya sedang makan, memang ada anak tetangga manggil2 minta izin melihat. Saya diam saja dan tidak tahu apakah mereka tetap masuk. Suami menghibur dan mengatakan mungkin memang kondisinya tidak memungkinkan untuk hidup. Bebe tidak disusui sama sekali, bahkan tadi induknya datang pun hanya geletakan lemas. Entah sakit atau bagaimana.
Suami langsung menguburkan Bebe, dia tahu saya tidak sanggup. Saya takut menangis, sementara di depannya pun sudah nyaris jebol air mata. Saya pernah lihat kucing tergilas mobil, pernah lihat bayi kucing lain dimakan induknya, pernah juga lihat kucing sakit sampai mati di usia sangat kecil… namun tetap saja sedih, baru kali ini ada yang mati dalam perawatan saya.
Saya kehilangan nafsu makan, nasi sisa campur telur asin saya berikan pada induknya yang menunggu di jalan sebelah bawah. Kemudian sarung tangan bekas memegang Bebe, wadah makan dan minumnya, saya buang. Suami sudah membersihkan teras dan menyiramnya juga. Kotak dan kain bekas ditinggalkan dekat kuburannya.
Saya tinggal tidur sekitar setengah jam, setelahnya merasa lebih tenang. Langit gelap dan mulai ada guruh. Suami masih lelap karena dia memang sedang tidak enak badan.
Samar-samar ketika bangun, saya dengar suara anak tetangga. Mereka sepertinya mengenali kotak yang kosong dan bilang, “Mungkin ada yang ngambil!” Duhai Anak-anak, kucing adalah makhluk hidup dan bukan mainan. Benar ada yang ngambil, Pemiliknya yang penuh kasih.
Sisi positifnya, pikiran saya tak bercabang lagi. Harus diakui, beberapa hal terbengkalai kemarin. Makin kuatlah tekad tidak memelihara kucing lagi, karena kalau sudah terbawa emosi lalu ada sesuatu yang buruk seperti ini, saya bisa sedih…
Memang mengurus bayi kucing butuh waktu, meski saya membiasakan diri sesuai tips2 yang ada agar tidak langsung datang begitu dia ngeong. Kata blogger yang saya contoh itu, biasakan dia agar nggak manja dan tahu kerasnya hidup sejak dini, hihihi…
Tadi tetangga yang pernah piara kucing lewat, saya beranikan menawarkan Bebe. Dia bilang gak mau, hanya menyarankan kasih air beras tadi. Iyalah, gak usah khawatir akan saya kasih susu. Jangankan susu formula non laktosa, susu apa pun di rumah ini nggak ada karena kami alergi.
Sepertinya Bebe memang kuat karena meski hanya minum dua kali, minumnya madu encer dan sari kurma encer. Ini Blangkontang datang, melingkar di ambang pintu, tapi masih menolak menyusui Bebe. Badannya kurus, bulunya kusut, tapi yah… kami punya keterbatasan.
Kemarin, diputuskan bahwa kalau Blangkontang tak mau urus Bebe, dia tak usah dikasih makan lagi supaya tidak datang-datang. Menyusahkan saja. Beberapa hari lalu masih saya beri makan dengan harapan dia mau menyusui anaknya. Dodol belaka.
Kemarin ruang tamu kami baru saja siap, dibereskan sedemikian rupa. Tahu-tahu Blanggendut lari masuk dikejar jantan musuhnya. Seperti biasa kalo berkelahi sampai ngolong begitu, dia… buang air. Suami marah besar karena harus menyikat dan membersihkan lantai berikut dua kursi.
Jadi… masalah kotoran Bebe juga tanggung jawab saya. Berbekal cerita teman dan komik Shinchan, saya ambil kain yang kena kotoran itu (jujur, saya jijikan orangnya), lalu saya kubur. Mungkin kalau ada tetangga lihat, tumben banget saya keluar siang-siang dan nyangkul pula. Ujung-ujung kain masih menyembul, biarlah… saya masih harus bersyukur karena di sini masih banyak tanah, tidak disemen total seperti RT dan jalur lain.
Balik lagi cek dusnya, ealah Bebe pipis melulu. Serasa dibukakan jalan mungkin. Karena dusnya ditaruh di bawah jendela kamar saya, bisa-bisa baunya menyengat ke dalam. Ya saya gosok dan bersihkan lagi dengan tisu, pake pewangi kamar mandi eh WC juga. Mudah-mudahan nggak dia jilat.
Bagusnya, kalo dia udah bisa pup segala rupa, berarti sudah membesar. Matanya bentar lagi membuka dan bisa mulai diajari mandiri.
… saya dapat pengetahuan tambahan mengenai cara mengurus Bebe. Masih untung, Bebe tidak jatuh ke selokan seperti pengalaman penulis blog itu. Sebelum dipindah kemari oleh induknya, memang Bebe jatuh karena merangkak-rangkak dari sela rumput di bawah pohon pisang. Tapi selokannya kering dan si induk sigap. Saat itu saja.
Blogger yang bikin saya tersenyum itu benar-benar sepaham karena, akibat satu dan lain hal, kami tidak bisa membawa Bebe ke dokter hewan. Kami bukan tipe penggemar kucing yang demikian. Jadi kombinasi pengetahuan (rada sok tahu) gara-gara pusing baca artikel internet yang simpang siurlah bekal saya mengurus Bebe.
Air tajin, kata teman yang paham hewan. Benar-benar ala kadarnya, air nasi yang baru matang di ricecooker saya kumpulkan. Disuapkan dengan cotton bud supaya mulutnya tidak luka, belakangan dengan sedotan teh kotak. Saya pede saja dia bisa menelannya karena muka yang tadinya basah belepotan sudah kering ketika dicek lagi. Kadang dia gosok-gosokkan ke tisu. Kemudian waktu disuapi, lidahnya menjilat-jilat. Saya memang amatir sekali soal bayi kucing telantar, hanya megang hati-hati karena khawatir patah.
Hari ini tibalah bagian paling merepotkan. Usai dibersihkan kelaminnya, kayaknya sih dia jantan, Bebe buang air. Padahal saya bersihkan dengan tisu dibasahi air itu pun gara-gara terdeteksi dia pipis. Buang airnya persis yang diceritakan di blog rujukan tadi. Paniklah saya soal itu, karena suami tidak mau urusan dengan kucing. Mengapa? Lanjut…
Sementara ia diberi nama Bebe. Ditinggalkan begitu saja oleh induknya, Blangkontang, setelah kepindahan kesekian kali. Waktu itu dia tinggalkan di samping rumah.
Sudah tiga kali Blangkontang mampir, saya masukkan ke kotaknya, si Bebe hanya diendus-endus lalu dia pergi lagi. Kata suami, “Kalo dia gak mau urus anaknya, jangan dikasih makan lagi. Biar gak ke sini-sini.”
Sesungguhnya kami memang berniat tidak mengurus atau memelihara kucing lagi… karena alergi bulu dan sebagainya.